Homili: Ketika Sabda Allah Menyentuh Kehidupan

Homili bukan selingan di antara bacaan Kitab Suci dan Liturgi Ekaristi. Homili merupakan bagian dari liturgi itu sendiri. Melalui homili, misteri iman yang diwartakan dalam bacaan diterangkan agar semakin dipahami dan dihayati oleh umat yang sedang merayakan Ekaristi.

Karena berada dalam perayaan liturgi, homili berbeda dari ceramah agama, kuliah Kitab Suci, pidato motivasi, atau pengumuman paroki. Titik berangkatnya ialah bacaan Kitab Suci atau teks liturgi yang sedang dirayakan. Tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membantu umat mengenali karya Allah dalam kehidupan dan menanggapinya dengan iman.

Homili juga menghubungkan dua meja dalam Misa: meja Sabda dan meja Ekaristi. Sabda yang didengarkan mempersiapkan umat untuk mengenali Kristus yang memberikan diri dalam Ekaristi. Dari sanalah umat diutus untuk menghadirkan kasih-Nya dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan pelayanan.

Homili yang baik tidak berhenti pada penjelasan masa lampau. Sabda Allah diterangi dalam konteks kehidupan umat sekarang: sukacita, luka, pergumulan, harapan, dan tanggung jawab mereka. Dengan demikian, homili menolong Sabda yang telah diwartakan sungguh menjadi “hidup dan kuat” dalam diri umat.

Rujukan Gereja: Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium 52; Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) 65; Homiletic Directory 4–13.

Tema: Liturgi
Target Pengguna: Dewasa
Jenis Materi: Artikel

Scroll to Top