Homili memang perlu menarik, tetapi daya tarik bukan ukuran utamanya. Homili yang lucu, penuh cerita, atau disampaikan dengan suara memukau belum tentu merupakan homili yang baik. Ukurannya ialah apakah homili setia pada Sabda Allah, selaras dengan iman Gereja, menyatu dengan perayaan liturgi, dan menolong umat bertumbuh sebagai murid Kristus.
Paus Fransiskus menyebut homili sebagai perjumpaan yang membahagiakan dengan Sabda Allah. Karena itu, bahasa homili sebaiknya jelas, hangat, konkret, dan dekat dengan kehidupan. Penjelasan yang terlalu abstrak atau dipenuhi istilah teknis dapat membuat umat kehilangan pesan utama. Sebaliknya, cerita dan humor boleh dipakai sepanjang melayani pewartaan, bukan menjadi pusat perhatian.
Homili juga tidak semestinya berubah menjadi komentar politik praktis, teguran panjang kepada kelompok tertentu, kesaksian pribadi yang berlebihan, atau kuliah yang tidak berhubungan dengan bacaan. Pengkhotbah dipanggil membantu umat mendengar suara Tuhan, bukan memamerkan pengetahuan atau kepribadiannya.
Homili yang sungguh menarik adalah homili yang membuat umat merasa bahwa Allah sedang berbicara kepada kehidupan mereka. Mungkin tidak selalu menghibur, tetapi memberi terang, meneguhkan harapan, mengundang pertobatan, dan membangkitkan keberanian untuk menjalani Injil.
Rujukan Gereja: Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium 135–159; Homiletic Directory 6–8.
Tema: Liturgi
Target Pengguna: Guru Agama, Imam
Jenis Materi: Artikel