Bagaimana Mengenali Tafsir Kitab Suci yang Benar?

Kitab Suci tidak seharusnya ditafsirkan hanya berdasarkan perasaan pribadi atau dengan mengambil satu ayat terlepas dari konteksnya. Gereja mengajarkan bahwa pembaca perlu memperhatikan maksud penulis manusia, bentuk sastra, keadaan zaman, dan kesatuan seluruh Kitab Suci.

Katekismus menyebut tiga pedoman penting. Pertama, memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci, sebab pusatnya adalah Kristus. Kedua, membaca Kitab Suci dalam Tradisi hidup seluruh Gereja. Ketiga, memperhatikan analogi iman, yakni keselarasan antara kebenaran-kebenaran iman.

Magisterium tidak menggantikan Kitab Suci dan tidak berada di atas Sabda Allah. Tugasnya adalah melayani Sabda: mendengarkan, memelihara, dan menerangkannya dengan setia. Karena itu, tafsir yang bertentangan dengan iman Gereja, merendahkan martabat manusia, atau menjadikan ayat sebagai pembenaran kepentingan pribadi patut dicurigai.

Membaca Alkitab secara Katolik berarti mempertemukan doa dan studi. Pembaca memohon terang Roh Kudus, memeriksa konteks, menggunakan penjelasan yang dapat dipercaya, dan mendengarkan iman Gereja. Dengan cara itu, Sabda Allah tidak diperalat untuk membenarkan kehendak manusia, tetapi dibiarkan mengubah kehidupan.

Rujukan Gereja: Konsili Vatikan II, Dei Verbum 10–12; KGK 109–114.

Scroll to Top