Misteri Perubahan Roti dan Anggur dalam Ekaristi

Dalam Doa Syukur Agung, roti dan anggur sungguh berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Gereja menyebut perubahan ini transubstansiasi: seluruh hakikat roti berubah menjadi hakikat Tubuh Kristus dan seluruh hakikat anggur berubah menjadi hakikat Darah-Nya, sementara rupa, rasa, dan sifat lahiriahnya tetap tampak sebagai roti dan anggur.

Perubahan ini tidak terjadi karena kesalehan pribadi imam atau kekuatan jemaat. Kristus sendirilah yang bertindak melalui sabda-Nya, dengan kuasa Roh Kudus, dalam pelayanan imam yang ditahbiskan secara sah. Ketika imam mengucapkan kata-kata institusi dalam Doa Syukur Agung, ia bertindak dalam pribadi Kristus Sang Kepala.

Karena itu, Ekaristi bukan drama simbolis yang sekadar mengingatkan umat pada Perjamuan Terakhir. Kurban Kristus yang satu dan sama dihadirkan secara sakramental. Kristus hadir secara benar, nyata, dan substansial—Tubuh, Darah, jiwa, dan keallahan-Nya.

Iman akan Kehadiran Nyata menjelaskan mengapa Gereja memperlakukan Sakramen Mahakudus dengan penghormatan tertinggi. Sikap berlutut, menyembah, menjaga keheningan, dan menerima Komuni dengan pantas bukan kebiasaan kosong, melainkan tanggapan iman kepada Tuhan yang hadir.

Rujukan Gereja: Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1373–1377; Kompendium KGK 282–283; Konsili Trente, Dekret tentang Ekaristi Mahakudus.

Tema: Ekaristi, Liturgi
Target Pengguna: Dewasa, Guru Agama, Imam, Katekis, Katekumen
Jenis Materi: Artikel

Scroll to Top