Warna kasula bukan sekadar pilihan selera imam atau hiasan untuk memperindah perayaan. Gereja menggunakan warna liturgi untuk mengungkapkan secara lahiriah corak misteri iman yang sedang dirayakan dan perjalanan hidup kristiani sepanjang tahun liturgi.
Warna putih dipakai pada Masa Natal dan Paskah, perayaan Tuhan yang bukan mengenai sengsara-Nya, serta perayaan Santa Perawan Maria, para malaikat, dan orang kudus bukan martir. Merah mengungkapkan sengsara Kristus, api Roh Kudus, serta kesaksian darah para rasul dan martir. Hijau digunakan dalam Masa Biasa sebagai warna pertumbuhan dan pengharapan. Ungu dipakai pada Masa Adven dan Prapaskah serta dapat dipakai dalam Misa Arwah sebagai tanda penantian, pertobatan, dan dukacita kristiani.
Dalam keadaan tertentu dapat digunakan warna mawar pada Minggu Gaudete dan Laetare. Hitam juga dapat dipakai dalam Misa Arwah apabila menjadi kebiasaan setempat. Pada perayaan yang lebih meriah, busana berwarna emas atau perak dapat digunakan sesuai ketentuan.
Melalui warna-warna itu, Gereja membantu umat “membaca” suasana perayaan bahkan sebelum doa-doa diucapkan. Warna liturgi mendidik mata agar hati semakin peka terhadap misteri Kristus.
Rujukan Gereja: PUMR 345–346.